_

_

Selasa, 10 Juli 2012

Buya HAMKA, Ulama Sejati yang Berdakwah dengan Hati

Saya tak ingat lagi di tahun berapa ketika setiap pagi seusai subuh  Buya Hamka berdakwah lewat Radio Republik Indonesia . Saya dan ayah anak2 ku selalu mendengarkan bersama-sama sambil minum kopi. Saya rajin membeli kaset2 beliau yang  di jaman itu belum ada CD.

Entah mengapa akhir2 ini saya begitu  rindu  mendengar ceramah2 beliau yang menyejukan hati.  Ketika  di mana mana saya melihat manusia yang mengaku muslim berdakwah dengan kekerasan, padahal Buya mengajarkan bahwa beragama tak boleh kasar, belum sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.

Alhamdulilah saya temukan ceramah2 Buya dari berbagai media online, lalu saya simpan di HP. Dimana saja ketika saya sendiri, saya selalu mendengarkan ceramah2 beliau yang begitu sejuk dan menujam kedalam hati.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) demikian nama lengkap ulama besar yang terkenal dengan nama  Buya Hamka yang meninggal pada tanggal 24 July 1981 dalam usia 73 tahun. Beliau seorang otodidak dalam berbagai ilmu filsafat, sastra , sejarah, sosiologi dan politik , baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arab yang tinggi beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak,  Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal. (sumber : Wikipedia Indonesia)

Dalam ceramah beliau yang berjudul ” Bersyukur” kita di ajarkan agar bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika mendapat cobaan.  Selalu mengeluh akan menimbulkan penyakit pada jiwa dan raga. Syukur dan sabar bagai dua sayap , yang kanan sayap syukur dan yg kiri sayap sabar.  Jika patah salah satu maka kita akan jatuh. ( Duh Buya betapa sulit  mencari ulama sejati seperti Buya Hamka…)

Saya pernah membaca buku berjudul ” Opening The Door of Your Heart”  karangan Ajhan Brahm seorang biksu asal Inggris yang kini bermukim di Perth. Ada kisah  tentang rasa syukur, ketika suatu masa  ia  sedang membangun rumah .  Bata2  tersusun indah hampir 100 banyaknya dan ia melihat ada 1 bata letaknya tak sesuai. Saat itu ia sangat kesal dan ingin menghancurkan seluruh bata yang telah tersusun itu, namun seseorang berkata. ” Mengapa kamu marah pada 1 bata ketika 99 bata tersusun begitu indah.” .

Ternyata kisah tentang rasa syukur sudah di ceritakan oleh Alm. Buya Hamka bertahun-tahun sebelumnya, yaitu ketika seseorang mengeluh  pada beliau tentang 2 rumah kontrakannya yang rusak padahal ia memiliki 30 rumah kontrakan. Ternyata sebagai manusia kita begitu banyak mengeluh hingga lupa pada karunia berlimpah yang Allah berikan untuk kita.

Lalu Buya juga mengingatkan bahwa jika mata sudah kabur, uban sudah bertabur, gigi sudah gugur dan kulit sudah kendur, maka yang ke 5 adalah pintu kubur. Kita di ajarkan berdoa agar di jauhkan dari nafsu yang tak pernah kenyang, hati yang tak pernah khusu’, ilmu yang tak bermanfaat dan doa yang tak di dengar.

Salah seorang bernama Abdul Rahman (syahwiza’s Channel) yang mengupload ceramah2 Buya di Youtube menulis catatan  :

” Guruku yang aku belum pernah bersua dengannya melainkan hanya dari siaran RRI Jakarta, kaset-kaset, dan kitab-kitab tulisannya. Semoga Allah SWT mempertemukan aku dengannya kelak di akhirat dalam syurga. Amin.”

Buya selalu ada di hatiku , dan kata2 bijakmu kan kuingat selalu.   Semoga kita semua dapat menjalankan apa yang beliau sampaikan.Amin.

BUYA HAMKA, ULAMA SEJATI YANG BERDAKWAH DENGAN HATI.

Sumber : http://sosok.kompasiana.com/2011/08/21/buya-hamka-ulama-sejati-yang-berdakwah-dengan-hati/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar