_

_

Rabu, 11 Juli 2012

Sajak

Di atas runtuhan Melaka
Lama penyair termenung seorang diri
ingat Melayu kala jayanya
pusat kebesaran nenek bahari

Di sini dahulu laksamana Hang Tuah
satria moyang Melayu sejati
jaya perkasa gagah dan mewah
"tidak Melayu hilang di bumi"

Di sini dahulu payung berkembang
megah bendahara Seri Maharaja
bendahara cerdik tumpuan dagang
lubuk budi laut bicara

Pun banyak pula penjual negeri
mengharap emas perak bertimba
untuk keuntungan diri sendiri
biarlah bangsa menjadi hamba

Inilah sebab bangsaku jatuh
baik dahulu atau sekarang
inilah sebabnya kakinya lumpuh
menjadi budak jajahan orang

Sakitnya bangsaku bukan di luar
tapi terhunjam di dalam nyawa
walau diubat walau ditawar
semangat hancur apakan daya

Janji Tuhan sudah tajalli
mulialah umat yang teguh iman
Allah tak pernah mungkir janji
tarikh riwayat jadi pedoman

malang mujur nasibnya bangsa
turun dan naik silih berganti
terhenyak lemah naik perkasa
tergantung atas usaha sendiri

Riwayat lama tutuplah sudah
sekarang buka lembaran baru
baik hentikan termenung gundah
apalah guna lama terharu

Bangunlah kekasih ku umat Melayu
belahan asal satu turunan
bercampur darah dari dahulu
persamaan nasib jadi kenangan

Semangat yang lemah buanglah jauh
jiwa yang kecil segera besarkan
yakin percaya iman pun teguh
zaman hadapan penuh harapan

Puisi yang ditulis Buya HAMKA pada tanggal 13 – November 1957 setelah mendengar uraian pidato Natsir yang dengan tegas  menawarkan agar menjadikan Islam sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Kepada saudaraku M. Natsir [by : HAMKA]

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau katakan benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan diatas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu Kemana lagi,
Natsir kemana kita
lagi Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama – sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan Dalam daftarmu !!

Selasa, 10 Juli 2012

Buya Hamka Jadi Pahlawan Nasional

Kita bangga dan bersyukur, berdasarkan Keputusan Pre­siden Nomor 113 TK 2011 Pemerintah Republik Indo­nesia meng­anugerahkan gelar pahlawan nasional kepada tujuh tokoh bangsa yang telah berjuang demi kepentingan negara. Salah-satu tokoh bangsa tersebut yakni Buya Hamka atau na­ma lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah dari Sumatera Barat. Sebelumnya, upaya pengusulan Buya Hamka menjadi pahlawan nasional telah dilakukan dalam berbagai upaya seperti melakukan pengkajian, seminar dan lainnya baik oleh per­guruan tinggi maupun pemerintah daerah sendiri. Kini, upaya tersebut  telah berbuah hasil.
Melekatkan Buya Hamka jadi pahlawan nasional, sebetulnya dari dulu sudah jadi kaharusan. Kenapa tidak dia tidak saja dikenal sebagai seorang ulama, namun juga seorang aktivis, politis, jurnalis, editor dan sastrawan. Pengabdian dan pengorbanan buat bangsa dan negara ini tidak terhitung lagi.
Buya Hamka (1908-1981) sendiri  lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau dan ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria. Di zamannya, Buya Hamka merupakan sosok intelektual yang modernis dan produktif. Pro­duktifitasnya terlihat dari karyanya yang ditulis dalam berbagai disiplin ilmu, baik di majalah, surat kabar, maupun dalam bentuk buku. Orien­tasi kajian produktifitasnya berkisar pada persoalan-persoalan kea­ga­maan dan sosial kemasyarakatan, seperti bidang tafsir, teologi, sastra fiqih, sejarah Islam, dan pendidikan. Karena kekuatan produktifitasnya tersebut berbagai penghargaan ia dapatkan yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo tahun 1958, Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia tahun 1958, dan lainnya.
Disigi dari kegiatan politik Buya Hamka, bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Pada masa inilah pemi­kiran Buya Hamka sering bergesekan dengan mainstream politik ketika itu. Perjalanan politiknya bisa dikatakan berakhir ketika Konstituante dibu­barkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 1959. Masyumi kemu­dian “diharamkan” oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960.
Deraan derita juga dirasakan oleh Buya Hamka karena idealisme yang dirangkaikan dengan kekuatan pe­mikiran dan perbuatannya. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Buya Hamka dipenjarakan oleh Presiden Soekarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Ke­bajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan ang­gota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia. Pada tahun 1978, Buya Hamka lagi-lagi berbeda panda­ngan dengan pemerintah. Pemicunya adalah keputusan Menteri Pen­didikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur selama puasa Ramadan, yang sebelumnya sudah menjadi kebia­saan.
Buya Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Tahun 1975, Hamka diberi kepercayaan untuk duduk sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hamka berusaha untuk membuat independen lembaga MUI menjadi terasa sangat kental ketika pada awal dekade 80-an, lembaga ini ‘berani melawan arus’ dengan mengeluarkan fatwa menge­nai persoalan perayaan Natal ber­sama. Buya Hamka menyatakan ‘haram’ bila ada umat Islam mengikuti perayaan keagamaan itu.
Risikonya Buya Hamka pun men­dapat kecaman. MUI ditekan dengan gencarnya melalui berbagai pen­dapat di media massa yang menya­takan bahwa keputusannya itu akan mengancam persatuan negara. Buya Hamka yang waktu itu berada dalam posisi sulit, antara mencabut dan meneruskan fatwa itu, akhirnya kemudian memutuskan untuk mele­takkan jabatannya. Ia mundur dari MUI pada 21 Mei 1981. Sebuah ben­tuk keidealismean seorang Hamka.
Selain aktif dalam soal keaga­maan dan politik, Buya Hamka merupakan seorang wartawan, pe­nulis, editor dan penerbit. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Teng­gelamnya Kapal Van Der Wijck, di Bawah Lindungan Kabah dan Mer­ntau ke Deli.
Sebetulnya sudah lama Buya Hamka harus dilekatkan dengan pahlawan nasional tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan Buya Hamka tak kunjung jua menjadi pahlawan nasional. Pertama, terjadi penyempitan dalam pendefinisian pahlawan itu sendiri serta terjadi penyempitan peluang tokoh sipil untuk diangkat menjadi pahlawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indo­nesia (1997) pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran ; pejuang yang gagah berani. Secara prinsip setiap bangsa membutuhkan pahlawan. Kemudian dalam Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 1964. Pahlawan adalah a) warga negara Republik Indonesia yang gugur dalam per­juangan-yang bermutu-dalam mem­bela dan negara, b) warganegara Republik Indonesia yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidupnya selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai  per­juangannya. Kriteria pertama me­ngacu kepada militer, sedangkan yang kedua kepada kalangan sipil. Peluang militer lebih banyak untuk menjadi pahlawan seperti diberikan oleh kriteria di atas. Sedangkan untuk sipil masih diganjal dengan ketentuan “tidak ternoda”-yang tampaknya ditujukan kepada seorang tokoh.
Kedua, sejarah senantiasa ber­proses dan bukan sebagai suatu hal yang sudah selesai, sehingga ada kecenderungan munculnya fakta-fakta dan interpretasi-interpretasi yang berbeda tentang suatu peristiwa sejarah dan tokoh. Begitu juga dengan perihal Buya Hamka tersebut terjadi perbedaan pandangan ten­tang suatu peristiwa atau tokoh dikalangan sejarawan, pemerintah dan masyarakat yang dilandasi per­be­­daan perolehan sumber sampai dengan masalah interpretasi yang berbeda.
Ketiga, historiografi yang bersifat Jawasentris yang ada selama ini khususnya masa Orde Baru. Sebuah corak penulisan sejarah yang “ber­kiblat” kepada Jawa. Jawa dianggap sentral dalam penulisan sejarah. Sehingga dengan hal tersebut telah memungkinkan tokoh-tokoh yang lahir di Jawa dibesar-besarkan se­dang­kan diluar Jawa merasa ter­pinggirkan.
Buya Hamka sudah jadi pahlawan nasional, sekarang ada tokoh bangsa yang harus dilekatkan menjadi pah­lawan nasional seperti Sultan Alam Bagagarsyah, dan lainnya. Walaupun keinginan kearah itu sudah dila­kukan, seperti pengkajian dan semi­nar atas Sultan Alam Bagagarsyah tersebut. Namun upaya tersebut belum jua berbuahkan hasil. Muda­han dengan kerjasama dan kekuatan yang kita miliki upaya tersebut nantinya berbuah hasil. Seperti upaya yang kita lakukan untuk manjadikan Buya Hamka sebagai pahlawan nasional. Wassallam.

Sumber :  http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10028:buya-hamka-jadi-pahlawan-nasional-&catid=12:refleksi&Itemid=82

Cukup Allah sebagai Pelindung: Kisah Hamka di Penjara Sukabumi

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas
Setelah Pemilihan Umum Pertama (1955), Hamka terpilih menjadi anggota Dewan Konstituante dari Masyumi mewakili Jawa Tengah. Setelah Konstituante dan Masyumi dibubarkan, Hamka memusatkan kegiatannya pada dakwah Islamiah dan memimpin jamaah Masjid Agung Al-Azhar, di samping tetap aktif di Muhammadiyah. Dari ceramah-ceramah di Masjid Agung itu lah lahir sebagian dari karya monumental Hamka, Tafsir Al-Azhar.

Zaman demokrasi terpimpin, Hamka pernah ditahan dengan tuduhan melanggar Penpres Anti-Subversif. Dia berada di tahanan Orde Lama itu selama dua tahun (1964-1966). Dalam tahanan itulah Hamka menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.

Waktu menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka memasukkan beberapa pengalamannya saat berada di tahanan. Salah satunya berhubungan de ngan ayat 36 Surah az-Zumar, “Bukan kah Allah cukup sebagai Pelindung hamba-Nya...”. Pangkal ayat ini menjadi perisai bagi hamba Allah yang beriman dan Allah jadi pelindung sejati.

Sehubungan dengan maksud ayat di atas, Hamka menceritakan pengalaman beliau dalam tahanan di Sukabumi, akhir Maret 1964. Berikut kutipan lengkapnya. “Inspektur polisi yang memeriksa sambil memaksa agar saya mengakui suatu kesalahan yang difitnahkan ke atas diri, padahal saya tidak pernah berbuatnya. Inspektur itu masuk kembali ke dalam bilik tahanan saya membawa sebuah bungkusan, yang saya pandang sepintas lalu saya menyangka bahwa itu adalah sebuah tape recorder buat menyadap pengakuan saya.”

“Dia masuk dengan muka garang sebagai kebiasaan selama ini. Dan, saya menunggu dengan penuh tawakal kepada Tuhan dan memohon kekuatan kepada-Nya semata-mata. Setelah mata yang garang itu melihat saya dan saya sambut dengan sikap tenang pula, tiba-tiba kegarangan itu mulai menurun.”

“Setelah menanyakan apakah saya sudah makan malam, apakah saya sudah sembahyang, dan pertanyaan lain tentang penyelenggaraan makan minum saya, tiba-tiba dilihatnya arlojinya dan dia berkata, Biar besok saja dilanjutkan pertanyaan. Saudara istirahatlah dahulu malam ini, ujarnya dan dia pun keluar membawa bungkusan itu kembali.

Setelah dia agak jauh, masuklah polisi muda (agen polisi) yang ditugaskan menjaga saya, yang usianya baru kira-kira 25 tahun. Dia melihat terlebih dahulu kiri kanan. Setelah jelas tidak ada orang yang melihat, dia bersalam dengan saya sambil menangis, diciumnya tangan saya, lalu dia berkata, Alhamdulillah bapak selamat! Alhamdulillah! Mengapa, tanya saya. Bungkusan yang dibawa oleh Inspektur M itu adalah setrum. Kalau dikontakkan ke badan bapak, bapak bisa pingsan dan kalau sampai maksimum bisa mati.

Demikian jawaban polisi muda yang ditugaskan menjaga saya itu dengan berlinang air mata. Bapak sangka tape recorder, jawabku sedikit tersirap, tetapi saya bertambah ingat kepada Tuhan. Moga-moga Allah memelihara diri Bapak. Ah! Bapak orang baik, kata anak itu.

Dalam menghadapi paksaan, hinaan, dan hardikan di dalam tahanan, Hamka selalu berserah diri kepada Allah SWT. Termasuk ketika Inspektur M datang membawa bungkusan malam itu, Hamka tetap dengan pendirian. Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya.
Redaktur: Siwi Tri Puji B

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/11/25/lv86ue-cukup-allah-sebagai-pelindung-kisah-hamka-di-penjara-sukabumi

Buya HAMKA, Ulama Sejati yang Berdakwah dengan Hati

Saya tak ingat lagi di tahun berapa ketika setiap pagi seusai subuh  Buya Hamka berdakwah lewat Radio Republik Indonesia . Saya dan ayah anak2 ku selalu mendengarkan bersama-sama sambil minum kopi. Saya rajin membeli kaset2 beliau yang  di jaman itu belum ada CD.

Entah mengapa akhir2 ini saya begitu  rindu  mendengar ceramah2 beliau yang menyejukan hati.  Ketika  di mana mana saya melihat manusia yang mengaku muslim berdakwah dengan kekerasan, padahal Buya mengajarkan bahwa beragama tak boleh kasar, belum sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.

Alhamdulilah saya temukan ceramah2 Buya dari berbagai media online, lalu saya simpan di HP. Dimana saja ketika saya sendiri, saya selalu mendengarkan ceramah2 beliau yang begitu sejuk dan menujam kedalam hati.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) demikian nama lengkap ulama besar yang terkenal dengan nama  Buya Hamka yang meninggal pada tanggal 24 July 1981 dalam usia 73 tahun. Beliau seorang otodidak dalam berbagai ilmu filsafat, sastra , sejarah, sosiologi dan politik , baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arab yang tinggi beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak,  Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal. (sumber : Wikipedia Indonesia)

Dalam ceramah beliau yang berjudul ” Bersyukur” kita di ajarkan agar bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika mendapat cobaan.  Selalu mengeluh akan menimbulkan penyakit pada jiwa dan raga. Syukur dan sabar bagai dua sayap , yang kanan sayap syukur dan yg kiri sayap sabar.  Jika patah salah satu maka kita akan jatuh. ( Duh Buya betapa sulit  mencari ulama sejati seperti Buya Hamka…)

Saya pernah membaca buku berjudul ” Opening The Door of Your Heart”  karangan Ajhan Brahm seorang biksu asal Inggris yang kini bermukim di Perth. Ada kisah  tentang rasa syukur, ketika suatu masa  ia  sedang membangun rumah .  Bata2  tersusun indah hampir 100 banyaknya dan ia melihat ada 1 bata letaknya tak sesuai. Saat itu ia sangat kesal dan ingin menghancurkan seluruh bata yang telah tersusun itu, namun seseorang berkata. ” Mengapa kamu marah pada 1 bata ketika 99 bata tersusun begitu indah.” .

Ternyata kisah tentang rasa syukur sudah di ceritakan oleh Alm. Buya Hamka bertahun-tahun sebelumnya, yaitu ketika seseorang mengeluh  pada beliau tentang 2 rumah kontrakannya yang rusak padahal ia memiliki 30 rumah kontrakan. Ternyata sebagai manusia kita begitu banyak mengeluh hingga lupa pada karunia berlimpah yang Allah berikan untuk kita.

Lalu Buya juga mengingatkan bahwa jika mata sudah kabur, uban sudah bertabur, gigi sudah gugur dan kulit sudah kendur, maka yang ke 5 adalah pintu kubur. Kita di ajarkan berdoa agar di jauhkan dari nafsu yang tak pernah kenyang, hati yang tak pernah khusu’, ilmu yang tak bermanfaat dan doa yang tak di dengar.

Salah seorang bernama Abdul Rahman (syahwiza’s Channel) yang mengupload ceramah2 Buya di Youtube menulis catatan  :

” Guruku yang aku belum pernah bersua dengannya melainkan hanya dari siaran RRI Jakarta, kaset-kaset, dan kitab-kitab tulisannya. Semoga Allah SWT mempertemukan aku dengannya kelak di akhirat dalam syurga. Amin.”

Buya selalu ada di hatiku , dan kata2 bijakmu kan kuingat selalu.   Semoga kita semua dapat menjalankan apa yang beliau sampaikan.Amin.

BUYA HAMKA, ULAMA SEJATI YANG BERDAKWAH DENGAN HATI.

Sumber : http://sosok.kompasiana.com/2011/08/21/buya-hamka-ulama-sejati-yang-berdakwah-dengan-hati/

Bedah Buku “Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme”

Oleh: Nur Afilin
Kirim Print

Cover Buku "Buya Hamka: Antara Kelurusan 'Aqidah dan Pluralisme"

dakwatuna.com – Sabtu (21/4/2012) Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) kembali menggelar diskusi Dwi-Sabtuan spesial. Dikatakan spesial karena diisi dengan agenda bedah buku Akmal Sjafril, ST. MPdI. berjudul “Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme”. Penulis yang akrab dipanggil Bang Akmal ini memang baru saja meluncurkan buku terbarunya tersebut pada tanggal 20 Maret 2012 lalu. Nama beliau sebelumnya dikenal sebagai penulis buku “Islam Liberal 101”, sebuah buku yang cukup dicari masyarakat pencinta ilmu. Hingga saat ini kabarnya buku tersebut sudah dicetak empat kali. Sehingga, ini menjadi hal yang menarik sekali jika kemudian beliau memutuskan membuat buku baru. Lalu, mengapa buku seputar Buya Hamka ini beliau tulis? Apa saja yang dibahas di dalamnya? Mari kita simak bersama uraian berikut.

Tentu H. Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981 M) atau yang akrab disapa Hamka atau Buya Hamka (karena beliau seorang Minang) merupakan figur yang luar biasa. Ulama, penulis, pendidik, jurnalis, sastrawan, politikus, dan sederet peran penting lainnya pernah beliau emban. Kredibilitas dari tiap karya ketua MUI pertama ini kesohor hingga negeri tetangga. Tak heran jika kemudian ada pihak-pihak yang berusaha menggunakan nama sosok yang baru disahkan sebagai pahlawan nasional Indonesia di tahun 2011 itu sebagai tameng untuk menyebarkan paham-paham menyimpang.

Adalah tulisan A. Syafi’i Ma’arif berjudul “Hamka tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah” yang menjadi awal permasalahan itu. Yaitu, permasalahan seputar pencatutan nama besar Buya Hamka untuk melegalkan pluralisme. Sebuah paham yang akhirnya makin santer terdengar gaungnya dewasa ini. Dalam artikel yang dimuat di rubrik Resonansi Harian Umum Republika edisi 21 November 2006 itu setidaknya mengandung tiga ‘kelalaian’ (jika tidak ingin disebut kesalahan) yang sangat fatal. Pertama, ketidakcocokan konteks yang digunakan antara tafsiran Buya Hamka dan tulisan Syafi’i Ma’arif. Kedua, tidak dijumpai penjelasan mengenai definisi Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in yang sebenarnya dibahas tuntas oleh Hamka dalam tafsir Al-Azhar karya beliau. Dan ketiga ialah Syafi’i Ma’arif tidak menyertakan bagian paragraf penting dalam tafsir Al-Azhar. Padahal, ketika kita membaca bagian paragraf tersebut secara total, akan jauh sekali dengan apa yang digambarkan Syafi’i Ma’arif dengan arah tafsir Al-Azhar.

Untuk lebih memperjelas, demikian terjemahan kedua surat dalam Al-Qur’an yang dipaksa menjadi pembenaran pluralisme tersebut:

“Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berdukacita.” (Al-Baqarah: 62)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Maidah: 69)

Sangat riskan sekali jika makna kedua ayat tersebut didekonstruksi tafsirannya. Padahal, setelah dengan panjang lebar Hamka membahasnya, di bagian akhir beliau menyatakan:

“Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak.”

Artinya, beliau sudah mengunci mati bahwa orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in zaman sekarang tidak bisa masuk dalam kategori di dua ayat Al-Qur’an tersebut. Ayat tersebut berlaku untuk mereka yang hidup sebelum risalah kenabian Rasulullah Muhammad SAW turun. Bukankah saat ini syi’ar Islam sudah sangat mudah dijumpai di hampir seluruh belahan dunia? Belum lagi media massa yang turut andil menyuarakan dakwah Islam tak terhitung jumlahnya. Sehingga tidak logis jika masih ada anggapan mereka tidak menerima keterangan apapun tentang Islam. Kesimpulan ini yang kemudian diputarbalikkan oleh Syafi’i Ma’arif. Kesan bahwa Hamka itu pluralis pun akhirnya menyeruak ke ruang publik. Akibatnya, beberapa seminar dan simposium digelar dan dengan tanpa segan menyematkan embel-embel pluralis kepada Sang Buya. Dan tidak mustahil itu akan berlarut-larut jika tidak dihentikan. Itulah yang kemudian mendorong Bang Akmal membukukan wacana yang awalnya berupa Tesis Magister Pendidikan Agama Islam di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor miliknya itu.

Selain karena munculnya artikel yang pernah membuat pro dan kontra di tubuh Republika tersebut, setidaknya ada tiga alasan mengapa alumnus S1 Fakultas Teknik ITB ini memutuskan menulis buku tersebut. Dari ketiga latar belakang itu, beliau menyatakan alasan sebagai pembuka wacana penggalian kembali warisan intelektual Buya Hamka ialah yang paling utama. Ya, ini tak berlebihan. Mengingat saat ini karya beliau yang sangat kaya dan ‘bergizi’ sudah sepi dibicarakan. Buku-buku Hamka pun sulit dicari di negeri tempat lahir ulama kharismatik ini. Padahal di negeri tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura kita dengan mudah kita bisa menjumpai buku-buku beliau di toko buku. Amat sayang rasanya kalau kita menyia-nyiakan warisan yang tak ternilai harganya itu. Terlebih lagi banyak karya beliau yang ternyata masih kompatibel dijadikan sebagai landasan dalam bertoleransi, memegang prinsip, dan seputar pemikiran serta aliran menyimpang yang sering menjadi wacana kekinian.

Masuk lebih dalam lagi, Bang Akmal menguliti satu demi satu aliran pluralisme yang ada. Menurutnya, ini penting dilakukan supaya di kemudian hari tak ada klaim tak ilmiah yang menyatakan Hamka itu pluralis. Di antara paham pluralisme yang dibahas ialah humanisme sekuler, teologi global, sinkretisme, hikmah abadi, dan teosofi-freemasonry. Di antara aliran-aliran tersebut, tak ada satu pun aliran yang cocok pemikirannya dengan Hamka. Justru dalam banyak tulisannya tergambar gamblang bahwa semua paham tersebut sangat berseberangan dengan apa yang Hamka yakini. Dan masih ada beberapa pembahasan seputar pluralisme dan bagaimana sebenarnya pemikiran Hamka dalam buku ini.

Usai memaparkan dasar pemikiran dan garis besar apa yang dibahas dalam bukunya, sesi tanya-jawab dan diskusi pun dibuka. Seperti biasa banyak terlihat peserta yang mengangkat jari tangannya. Satu demi satu wacana dari peserta masuk menambah seru suasana diskusi. Semua wacana tersebut semakin mengukuhkan bahwa dampak pluralisme sudah menyentuh tataran grassroot. Sehingga, ini menjadi hal yang mendesak walaupun belum tentu masyarakat paham wacana yang masih dianggap elitis ini. Akhirnya, semoga dengan kehadiran buku ini turut bisa menyadarkan masyarakat umum bahwa perkara pluralisme bukan hal remeh.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19974/bedah-buku-buya-hamka-antara-kelurusan-aqidah-dan-pluralisme/#ixzz20FTKYpTP

Hidayatullah “Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama”

Oleh: Dr. Adian Husaini

BELUM lama, pada 20 Maret 2012, salah satu peneliti INSISTS, Akmal Syafril, ST., M.Pd.I., menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme.  Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama.

Menurut penulisnya, pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi, surat kabar Republika, edisi 21 November 2006, yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”.
Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Di bagian awalnya, Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: “Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat al-Baqarah.  Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana.”
Di antara berbagai kutipan Tafsir Al Azhar dari artikel tersebut, inilah salah satunya yang nampaknya paling penting: “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu.”
Setelah menjelaskan bahwa Hamka menolak pendapat yang menyatakan bahwa ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah telah di¬-nasakh oleh ayat ke-85 dalam Surah Ali ‘Imran, Syafii Maarif pun memungkas artikelnya dengan opini berikut: “Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing.  Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Al-Quran.  Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Al-Quran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99).”
Memang, setelah keluarnya tulisan Syafii Maarif tersebut, terjadi perdebatan yang cukup seru di Rubrik Opini Harian Republika. Saya pun segera menulis artikel yang menjawab artikel Syafii Maarif tersebut. Intinya, saya menegaskan, bahwa Buya Hamka sama sekali bukan seorang Pluralis Agama. Perlu dicatat, bahwa Pluralisme Agama, dalam CAP ini adalah paham yang  menyatakan bahwa semua agama merupakan jalan yang sah menuju inti realitas keagamaan. Dalam Pluralisme agama, tidak ada satu agama yang merasa superior dibanding yang lain. Tapi, setiap agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran dan Tuhan (In pluralism, no one religion is superior to any other; each and every religion is equally valid way to truth and God). (Alister E. Mcgrath, Christian Theology: an Introduction, (Oxford: Blackwell Publisher, 1994).
Menurut Akmal, dalam makalahnya, ia mengaku menemukan beberapa kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Syafii Maarif dalam pengutipan Tafsir Al Azhar tersebut, terlepas dari ada-tidaknya unsur kesengajaan.
Kesalahan pertama,  adalah perihal penggunaan kedua ayat tersebut yang jauh dari konteks aslinya. Syafii Maarif – dan sang Jenderal Polisi yang berkonsultasi dengannya – menganggap bahwa kedua ayat ini dapat digunakan untuk menanggulangi konflik horizontal di Poso. Dari paragraf kesimpulan yang ditulis oleh Syafii Maarif sebelumnya, kita dapat memahami bahwa konflik horizontal yang dimaksud adalah konflik antar umat beragama. Karena digali dari al-Qur’an, maka dapat dipahami pula bahwa penelaahan ini digunakan untuk meredam keinginan sementara pihak di kalangan umat Muslim untuk melakukan kekerasan pada umat lain.
Padahal, tegas Akmal, jika Tafsir Al Azhar dibaca secara runut, akan ditemukan asbabun nuzul dari ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah itu, yakni untuk menjawab pertanyaan Salman al-Farisi r.a. seputar orang-orang sholeh yang dijumpainya di masa lampau, sedangkan orang-orang tersebut beragama Nasrani, Yahudi dan lain-lain. Kesalahan kontekstual ini akan terlihat jelas kemudian.
Kesalahan kedua disebabkan oleh kelengahan Syafii Maarif untuk melacak penjelasan nama-nama agama “Yahudi”, “Nasrani” dan “Shabi’in” dalam Tafsir Al Azhar. Padahal, Buya Hamka sudah menjelaskan masalah ini. Menurut Hamka, “Yahudi” (berasal dari nama Yehuda, salah satu anak Nabi Ya’qub as) pada hakikatnya adalah agama-keluarga, “Nasrani” (berasal dari nama Nashirah, yaitu daerah kelahiran Nabi ‘Isa as) pada hakikatnya adalah agama-bangsa, dan “Shabi’in” adalah nama yang diberikan bagi orang yang keluar dari agama nenek moyangnya, sehingga Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam pun pernah disebut sebagai shabi’.
Dengan definisi tersebut, maka orang yang terlanjur dikenal sebagai Yahudi, Nasrani dan Shabi’in di masa lampau (yaitu sebelum masa kenabian Rasulullah saw) bisa beriman dan tak beriman. Contoh yang dapat diambil adalah Pendeta Bahira. Sejarah mengenalnya sebagai tokoh yang pertama kali membenarkan kenabian Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam berdasarkan tanda-tanda yang diketahuinya dari Injil, dan oleh karena itu, ia dikategorikan sebagai orang yang beriman.
Meski demikian, Bahira tetaplah dikenal sebagai penganut agama Nasrani, karena memang ia tidak sempat mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Tentu saja, Bahira dapat dianggap sebagai Nasrani yang beriman hanya karena ia hidup pada masa pra-kenabian Rasulullah saw. Jika ia sempat bertemu dengan dakwah Rasulullah, tentu ia harus mengucap syahadatain, dan hanya dengan cara itulah ia bisa dianggap sebagai orang yang beriman. Hal ini akan semakin jelas pada poin berikutnya.
Kesalahan ketiga – mungkin yang paling fatal – adalah tidak dicantumkannya sebuah paragraf penting yang dapat ditemukan di akhir penjelasan ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah dalam Tafsir Al Azhar yang justru menyimpulkan pendapat Buya Hamka yang sebenarnya secara utuh. Penjelasannya adalah sebagai berikut: “Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak.”
Umumnya, kesimpulan dari sebuah uraian ilmiah, termasuk penafsiran al-Qur’an, dapat dijumpai di bagian akhirnya. “Dengan menyimak betapa pentingnya penjelasan di atas, kita pun bertanya-tanya mengapa Syafii Maarif justru memilih untuk meninggalkan penjelasan ini, yang – jika dicantumkan – akan segera menghapus kesan pluralis dari sosok Buya Hamka dalam artikel tersebut?” tulis Akmal, yang sebelumnya sudah dikenal sebagai penulis buku “Islam Liberal 101”. .
Opini dan kesan bahwa ‘Buya Hamka seorang pluralis’, bagaimana pun, telah terlanjur bergulir. Hanya berselang enam hari dari dimuatnya artikel Syafii Maarif tentang Tafsir Al Azhar di surat kabar Republika, Ayang Utriza NWAY menyampaikan makalahnya dalam acara diskusi publik bertajuk Islam dan Kemajemukan di Indonesia. Diskusi publik tersebut diadakan sebagai rangkaian kegiatan dalam Nurcholish Madjid Memorial Lecture di sebuah Perguruan Tinggi di Banten. Makalah yang dibawakannya berjudul “Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”. Dalam makalahnya, Ayang bahkan telah melangkah lebih jauh lagi daripada Syafii Maarif. Setelah mengutip beberapa poin dalam Tafsir Al Azhar – lagi-lagi untuk QS. al-Baqarah [2]: 62 – Ayang menyimpulkan:
“Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam, maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga.  Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga.”
Menurut Akmal, tidaklah sulit menunjukkan kesalahan (untuk tidak menyebutnya ketidakjujuran) fatal yang dilakukan oleh Ayang Utriza NWAY.  Saya pribadi (Adian Husaini) juga menemukan tulisan Ayang Utriza yang menfitnah Buya Hamka dalam buku Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid, (Jakarta: Universitas Paramadina, 2007). Kutipan makalah Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina itu dimuat di halaman 307.
Saya sudah menulis jawaban terhadap tulisan Ayang tersebut untuk buku 100 Tahun Buya Hamka. Bahkan, saat bertemu keluarga Hamka, saya sampaikan keprihatinan saya tentang tulisan-tulisan yang menfitnah Buya Hamka.  Akan tetapi, meskipun artikel dan makalah sudah kita tulis di berbagai media massa, tetap saja pendapat yang mengutip tulisan Buya Hamka secara tidak proporsional juga terus berkeliaran. Bahkan, hingga kini, tak ada koreksi terhadap kekeliruan yang sudah dilakukan.
Dalam kaitan itulah, hadirnya buku Akmal ini menjadi penting. Fungsinya, untuk memperjelas posisi Hamka dalam soal Pluralisme Agama dan membentengi upaya orang-orang yang mengutip tulisan Hamka secara tidak proporsional atau bahkan memuarbalikkan makna tulisan Hamka yang sebenarnya. Menurut Akmal, itulah yang mendasarinya mengembangkan makalahnya menjadi sebuah Tesis dengan judul Studi Komparatif Antara Pluralisme Agama dengan Konsep Hubungan Antar Umat Beragama dalam Pemikiran Hamka. Sesuai dengan judulnya, tesis ini tidak hanya membahas kontroversi dari artikel Syafii Maarif dan makalah Ayang Utriza NWAY belaka, melainkan mengupas tuntas jawaban dari sebuah pertanyaan besar: apakah Buya Hamka memang seorang pluralis? Buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme merupakan hasil adaptasi dari tesis tersebut.
Persoalan paling fundamental yang pasti muncul ketika membahas pluralisme, sebagaimana dijelaskan oleh Anis Malik Thoha dalam bukunya Tren Pluralisme Agama, adalah mendefinisikan makna Pluralisme itu sendiri. Masing-masing pihak yang mengusung pluralisme memiliki konsepnya sendiri-sendiri, bahkan tidak jarang orang menulis sebuah makalah atau buku tentang pluralisme tanpa pernah memberikan definisi pluralisme itu. Oleh karena itu, buku ini pun menguraikan secara mendalam persoalan definisi pluralisme, sejarah pluralisme dan tren-tren pluralisme yang ada. Hal-hal ini dijabarkan di dalam bab ketiga.
Setelah menjelaskan tren-tren tersebut, bab keempat dalam buku ini menguraikan argumen-argumen yang digunakan oleh kaum pluralis dari kalangan Muslim, terutama dengan bersandar pada sejumlah ayat al-Qur’an. Pembahasan ini cukup penting, selain karena posisi sentral al-Qur’an dalam ajaran Islam, juga karena tokoh yang pemikirannya sedang dibahas – yaitu Buya Hamka – adalah seorang mufassir. Dengan memperbandingkan penafsiran Hamka dengan penjelasan ayat-ayat tersebut oleh kaum pluralis Muslim, kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai persamaan dan/atau perbedaan cara berpikir keduanya.
Karena pada masa hidup Buya Hamka dahulu istilah “pluralisme” belum dikenal, maka penulis buku ini merasa perlu menguraikan konsep hubungan antar umat beragama menurut Hamka ke dalam beberapa poin penting. Poin-poin ini merupakan hal-hal yang sangat fundamental dalam gagasan pluralisme, misalnya konsep agama, posisi Islam di antara agama-agama lainnya, pandangan seputar aliran-aliran yang menyimpang, pengejawantahan toleransi beragama, dan sebagainya.
Sebagai contoh, seorang pluralis pasti menganggap Islam sejajar dan tidak lebih unggul daripada agama lainnya. Siapa pun yang berpikiran seperi itu, maka ia memang seorang pluralis. Tetapi Hamka tidak berpikiran seperti itu. Referensi yang telah ditinggalkan oleh Hamka begitu berlimpah, sehingga usaha pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidaklah sulit untuk dilakukan.
Walhasil, di tengah carut-marutnya pemikiran di Indonesia dewasa ini, buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme karya Saudara Akmal ini cukup memberikan penjelasan tuntas seputar kesemrawutan konsep pluralisme. Karya ini diharapkan mampu merangsang kembali minat para pemuda Muslim untuk menggali kembali warisan intelektual dari Buya Hamka, dan juga dari para cendekiawan Muslim terdahulu lainnya.
“Adapun seputar ‘klaim pluralisme’ terhadap pribadi Hamka, insya Allah mereka yang sudah tuntas membaca buku ini tidak akan memiliki keraguan lagi,” tulis Akmal yang menyelesaikan sarjana S-1 nya di bidang civil engineering di Institut Teknologi Bandung.
Semoga bermanfaat, dan kita menunggu terus karya-karya ilmiah yang bermutu dari para pejuang Islam lainnya.*/Jakarta, 20 April 2012

Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com
Ilustrasi: serbasejarah WP


Sumber : http://hidayatullah.com/read/22294/20/04/2012/%E2%80%9Cmemperjelas-posisi-hamka-soal-pluralisme-agama%E2%80%9D.html

Red: Cholis Akbar

Hujjatul Islam: Buya Hamka, Ulama Besar dan Penulis Andal

REPUBLIKA.CO.ID, Ia adalah salah satu anak bangsa yang kiprahnya tidak hanya dikenal luas di wilayah Nusantara, namun juga hingga ke negeri-negeri tetangga.

Hamka, demikian orang-orang memanggil sosok ulama terkenal, penulis produktif, dan mubaligh besar yang berpengaruh di kawasan Asia ini.

Nama sebenarnya adalah Abdul Malik Karim Amrullah. Sesudah menunaikan ibadah haji pada 1927, namanya mendapat tambahan 'Haji' sehingga menjadi Haji Abdul Malik Karim Amrullah, disingkat Hamka.

Ensiklopedi Islam menyebutkan tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16 Februari 1908 ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi) kira-kira tiga tahun.

Namun bakat yang dimilikinya dalam bidang bahasa, membuat Hamka dengan cepat bisa menguasai bahasa Arab, dan ini mengantarkannya mampu membaca secara luas literatur Arab, termasuk terjemahan dari tulisan-tulisan Barat.

Sebagai seorang anak tokoh pergerakan, sejak kanak-kanak Hamka sudah menyaksikan dan mendengar langsung pembicaraan tentang pembaharuan dan gerakannya melalui ayah dan rekan-rekan ayahnya. Ayah Hamka adalah H Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh pelopor gerakan Islam 'Kaum Muda' di Minangkabau.

Sejak usia muda, Hamka sudah dikenal sebagai seorang pengelana. Sang ayah bahkan menjulukinya 'Si Bujang Jauh'. Pada tahun 1942, dalam usia 16 tahun, ia pergi ke Jawa untuk menimba pelajaran tentang gerakan Islam modern melalui H Oemar Said Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin yang mengadakan kursus-kursus pergerakan di Gedung Abdi Dharmo di Pakualaman, Yogyakarta.

Setelah beberapa lama menetap di Yogyakarta, ia berangkat ke Pekalongan dan menemui kakak iparnya, AR Sutan Mansur, yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan. Di kota ini ia berkenalan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat.

Pada bulan Juli ia kembali ke Padangpanjang dan turut mendirikan Tablig Muhammadiyah di rumah ayahnya di Gatangan, Padangpanjang. Sejak itulah ia mulai berkiprah dalam organisasi Muhammadiyah.

Pada bulan Februari 1927, ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana lebih kurang enam bulan. Selama di Makkah, ia bekerja pada sebuah percetakan. Pada bulan Juli, ia memutuskan kembali ke Tanah Air dengan tujuan Medan dan menjadi guru agama pada sebuah perkebunan selama beberapa bulan. Pada akhir tahun 1927, ia kembali ke kampung halamannya.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada tahun 1928, untuk kali pertama ia terlibat langsung dalam kegiatan Muhammadiyah dengan menjadi peserta muktamar di Solo, dan sejak itu Hamka hampir tidak pernah absen dalam Muktamar Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Sepulang dari Solo, ia mulai memangku beberapa jabatan, mulai dari ketua bagian Taman Pustaka, kemudian Ketua Tabligh, sampai menjadi Ketua Muhammadiyah cabang Padangpanjang.

Pada tahun 1930, ia diutus oleh Pengurus Cabang Padangpanjang untuk mendirikan Muhammadiyah di Bengkalis. Pada tahun 1931, ia diutus oleh Pengurus Pusat Muhammadiyah ke Makassar untuk menjadi mubalig Muhammadiyah dalam rangka menggerakkan semangat untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-21 pada bulan Mei 1932 di Makassar.

Pada tahun 1934, ia kembali ke Padangpanjang dan diangkat menjadi Majelis Konsul Muhammadiyah Sumatera Tengah. Di awal tahun 1936, Hamka pindah ke Medan dan terjun dalam gerakan Muhammadiyah Sumatra Timur. Di kota ini, ia memimpin majalah Pedoman Masyarakat.

Pada tahun 1942 ia terpilih menjadi pimpinan Muhammadiyah Sumatera Timur dan baru tahun 1945 meletakkan jabatan itu karena pindah ke Sumatera Barat. Sejak 1946, ia terpilih menjadi Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sumatra Barat. Kedudukan ini dipegangnya sampai 1949.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto pada 1953, ia terpilih menjadi anggota pimpinan pusat Muhammadiyah dan sejak itu selalu terpilih dalam muktamar.

Baru pada Muktamar Muhammadiyah tahun 1971 di Makassar, karena faktor usia, ia memohon agar tidak dipilih kembali. Tetapi, sejak itu pula ia diangkat menjadi penasihat pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Ia meninggal di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1981.

Aktif menulis
Nama Hamka juga dikenal luas berkat karya-karyanya. Kecintaannya terhadap dunia menulis ini dimulai ketika ia memutuskan untuk memasuki dunia jurnalisme pada akhir tahun 1925.

Saat itu ia mengirim artikel ke harian Hindia Baru, yang dieditori oleh Haji Agus Salim, seorang pemimpin politik Islam. Sekembalinya ke Padangpanjang, Hamka mendirikan jurnal Muhammadiyah pertama, Chatibul Ummah.

Sejak saat itu, dia mulai rajin menulis karya-karya sastra. Bukunya yang pertama merupakan sebuah novel Minangkabau berjudul 'Si Sabariah', terbit pada tahun 1925. Dia secara teratur mengirimkan artikel ke jurnal-jurnal lokal dan menerbitkan buku kecil mengenai adat Minangkabau dan sejarah Islam.

Pada 1936, dia menerima tawaran menjadi editor kepala pada sebuah jurnal Islam baru di Medan, Pedoman Masyarakat. Ketika dia menjabat sebagai editor, jurnal ini menjadi salah satu yang paling sukses dalam sejarah jurnalisme Islam di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi kehidupan Hamka, masa-masa ketika tinggal di Medan (1936-1945) merupakan tahun-tahun paling produktif.

Selama periode ini dia menulis dan mempublikasikan sebagian besar novelnya. Di antaranya Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1937), Merantau ke Deli (1940), dan Di Dalam Lembah Kehidupan (1940).

Dia juga menulis buku-buku mengenai etika Islam dan tasawuf, seperti Tasawuf Modern (1939), Lembaga Budi (1939), dan Falsafah Hidup (1940).

Pada tahun 1949, ia menerbitkan biografi orang tuanya dengan judul Ayahku, yang juga memaparkan sejarah gerakan Islam di Sumatera, disamping memoar empat jilid berjudul Kenang-Kenangan Hidup dan jilid pertama Sejarah Umat Islam.

Pada tahun 1950, ketika ia mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Dalam kesempatan ini ia bertemu dengan pengarang-pengarang Mesir yang telah lama dikenalnya lewat karya-karya mereka, seperti Taha Husein dan Fikri Abadah. Sepulang dari lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.

Bersama dengan KH Fakih Usman (Menteri Agama dalam Kabinet Wilopo 1952), pada bulan Juli 1959, ia menerbitkan majalah tengah bulanan Panji Masyarakat. Majalah ini menitikberatkan soal-soal kebudayaan dan pengetahuan agama Islam.

Majalah ini kemudian dibreidel pada 17 Agustus 1960 dengan alasan memuat karangan Dr Muhammad Hatta berjudul 'Demokrasi Kita', yang isinya mengkritik tajam konsep Demokrasi Terpimpin. Majalah ini baru terbit kembali setelah Orde Lama tumbang, tepatnya pada tahun 1967. Hamka sendiri dipercaya sebagai pimpinan umum majalah Panji Masyarakat hingga akhir hayatnya.

Hobi menulisnya ini tetap ditekuninya manakala ia berada di balik terali besi penjara. Pada tanggal 27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan kitab Tafsir Al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde Lama tumbang.

Hamka meninggalkan karya yang sangat banyak; di antaranya yang sudah dibukukan tercatat lebih kurang 118 buku, belum termasuk karangan-karangan panjang dan pendek yang dimuat di berbagai media massa dan disampaikan dalam beberapa kesempatan kuliah atau ceramah ilmiah. Tulisan-tulisan itu meliputi banyak bidang kajian, seperti politik, sejarah, budaya, akhlak, dan ilmu-ilmu keislaman.

REPUBLIKA.CO.ID, Semasa hidupnya, Hamka dikenal sebagai sosok yang memiliki pendirian yang tegas, terutama dalam memperjuangkan dakwah Islam. Sikap tegasnya ini juga ditunjukkannya manakala pada tahun 1975 ia diberi kepercayaan untuk duduk sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Fatwa Haram yang Menuai Kecaman
Berbagai pihak waktu itu sempat sangsi terhadap Hamka. Bila jabatan tersebut diterimanya, maka dikhawatirkan ia tidak akan mampu menghadapi intervensi kebijakan pemerintah Orde Baru kepada umat Islam saat itu.

Namun, Hamka menepis keraguan itu dengan mengambil langkah memindahkan kantor pusat kegiatan MUI dari Masjid Istiqlal ke Masjid Al-Azhar. Langkah ini ditempuh Hamka untuk mendorong MUI menjadi lembaga yang independen.

Usaha Hamka untuk membuat independen lembaga MUI mulai terasa ketika pada awal 1980 lembaga ini berani melawan arus dengan mengeluarkan fatwa mengenai persoalan perayaan Natal bersama. Saat itu, Hamka menyatakan haram bila ada umat Islam mengikuti perayaan keagamaan itu.

Keberadaan fatwa tersebut kontan saja membuat geger publik. Terlebih lagi pada waktu itu arus kebijakan pemerintah tengah mendengungkan isu toleransi. Berbagai instansi waktu itu ramai mengadakan perayaan Natal bersama. Bila ada orang Islam yang tidak bersedia ikut merayakan natal, maka mereka dianggap kaum fundamentalis dan anti-Pancasila.

Keadaan itu kemudian memaksa MUI mengeluarkan fatwa. Risikonya Hamka pun mendapat kecaman. MUI ditekan dengan gencarnya melalui berbagai pendapat di media massa yang menyatakan bahwa fatwa tersebut akan mengancam persatuan negara. Melalui sebuah tulisan yang dimuat di Majalah Panjimas, Hamka berupaya mempertahankan fatwa haram merayakan Natal bersama bagi umat Islam yang dikeluarkannya.

Hamka yang waktu itu tetap berpendirian teguh tidak akan mencabut fatwa Natal tersebut, akhirnya memilih untuk meletakkan jabatannya setelah ada desakan dari pemerintah. Ia mundur dari MUI pada 21 Mei 1981. Tak lama kemudian, beliau meninggal dunia, tepatnya pada tanggal 24 Juli 1981.

Oleh sejumlah kalangan, sikap tegas Hamka ketika memimpin MUI merupakan cerminan dari pribadinya. Bahkan, banyak pihak yang mengatakan sepeninggal Hamka, Fatwa MUI terasa menjadi tidak lagi menggigit. Bahkan di masa Orde Baru, posisi lembaga ini terkesan hanya sebagai tukang stempel kebijakan pemerintah terhadap umat Islam belaka.

Buya Hamka di Mata Orang Minang

"Beliau berani menentang Orde Baru yang dianggapnya keliru.”
VIVAnews -- Buya Hamka baru saja ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dalam upacara di Istana Negara yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketokohan Buya Hamka yang membuat ulama serta pejuang ini pantas menyandang status sebagai pahlawan nasional.

Sebelumnya, sederet nama dari Minang juga telah diakui ketokohannya secara nasional dan menyandang status serupa. Sebut saja seperti Bung Hatta dan M Natsir. Bagaimana tanggapan petinggi di Sumbar terkait penganugerahan gelar pahlawan nasional pada tokoh-tokoh asal Minang?

“Saya bangga dan senang dengan pemberian gelar pahlawan nasional bagi tokoh-tokoh Minang termasuk penganugerahan gelar serupa pada Syafruddin Prawiranegara,” kata Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim pada VIVAnews, Senin, 14 November 2011.

Kebanggaan ini, ujar Wagub, memotifasi kalangan muda Minang untuk berbuat lebih baik. Penganugerahan gelar pahlawan nasional pada tokoh Sumbar tersebut dinilai sebagai tantangan bagi generasi Minang saat ini.

“Ini menjadi spirit bagi kita untuk membuktikan bahwa orang-orang di Sumbar memiliki peran aktif dan berjuang bersama untuk kemerdekaan RI,” tambah Muslim. Terkait kiprah Syafruddin Prawiranegara yang bukan orang Minang, menurutnya, kiprah mantan Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) melekat dalam ingatan orang Minang.

Orang Berani
Walikota Padang Fauzi Bahar mempunyai cerita sendiri terhadap figur Buya Hamka. Penggemar Buya Hamka ini rela mengikuti pengajian Buya Hamka di salah satu masjid di Jakarta Selatan, sewaktu masih kecil.

“Dari dulu, ke mana pun beliau memberi pengajian, saya kerap mengikutinya,” kata Fauzi Bahar pada VIVAnews. Apa yang membuat orang nomor satu di Padang ini tertarik dengan ketokohan Buya Hamka?

Menurut Fauzi, ia mengenal ketokohan Buya Hamka dari orang tuanya. Beragam buku tulisan Buya Hamka seperti "Tenggelamnya Kapa Van Der Wijck" merupakan persinggungannya dengan ustad sekaligus pejuang tersebut. Direcoki dengan sejumlah buku Buya Hamka membuat Fauzi, selalu bersemangat untuk mendengar langsung cerita dari orang tuanya.

“Saya selalu berada di saf depan dan cepat-cepat datang ke pengajian Buya Hamka jika tahu ada pengajiannya,” cerita Fauzi. Ia mengaku, figur Buya Hamka punya daya tarik tersendiri.
“Sampai sekarang tidak akan pernah ada ditemukan sosok seperti beliau,” ujar Walikota. Sebagai anak muda saat itu, Fauzi mengenal Buya Hamka sebagai sosok yang berani dalam menentang arus.

“Beliau orang yang berani berkata benar. Beliau berkata tentang bahaya komunis saat komunis masih kuat, dan menentang Orde Baru yang dianggapnya keliru,” papar Fauzi.

Seperti dimuat situs ini sebelumnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang disingkat HAMKA selain dikenal sebagai pemimpin Muhammadiyah, juga seorang penulis dan aktivis. Karya sastra pria kelahiran Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 itu telah diangkat ke layar lebar yakni, novel “Di Bawah Lindungan Kabah” yang ditulisnya pada 1936.

Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Di masa kemerdekaan, Hamka ikut membesarkan Partai Masyumi, namun belakangan lebih giat di bidang sosial keagamaan.  (eh)

sumber : http://nasional.news.viva.co.id/news/read/263883-buya-hamka-di-mata-orang-minang

Laporan: Eri Naldi| Padang

Nasehat Buya Hamka untuk Penulis Pemula

Satu hal yang tidak pernah H Ridwan Saidi Tokoh Masyarakat Betawi lupakan adalah ketika pada satu hari ulama besar itu memanggilnya. Buya Hamka sebelumnya telah membaca tulisan nya yang dimuat di surat kabar lokal. ” Kamu pintar menulis, tapi kamu punya tulisan belum ada tuahnya.” Dari nasihat itu, Ridwan yang saat ini sering muncul di acara dialog salah satu stasiun TV itu menangkap bahwa Buya menghendakinya untuk menulis dengan hati nurani dan kritis menangkap persoalan di tengah masyarakat. 

 Rasanya malu sekali diri ini ditengah keributan mempertentangkan sastra di kompasiana, ketika menyaksikan peng anugerah an gelar Pahlawan Nasional untuk Buya Hamka. Kita belum begitu memahami seluk beluk menulis dengan benar tetapi telah bertengkar tak tentu arah. Nasehat Buya sangat tepat sekali, tuah atau roh tulisan itulah yang belum kita dapat. Sebagai penulis pemula pantaslah rasa penuh hormat disampaikan kepada Sastrawan Indonesia yang telah menulis begitu banyak karya sastra yang menjadi bacaan wajib pecinta sastra. Ya, Alhamdulillah akhirnya Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Prof Dr Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) (Alm) Tokoh Pejuang dari Sumatera Barat sebagai Pahlawan Nasional. 

Seperti banyak ditulis di media, Buya Hamka adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis yang karyanya telah memperkaya khasanah pemikiran Indonesia. Karya sastra pria kelahiran Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 itu telah diangkat ke layar lebar. Yakni, novel “Di Bawah Lindungan Kabah” yang ditulisnya pada 1936. Buya Hamka wafat di Jakarta pada 24 Juli 1981, meninggalkan 11 anak. Buya Hamka juga telah menulis novel Tenggelamnya Kapal van der Wijk, Si Sabariah, Dijemput Mamaknya, Merantau ke Deli, dan kumpulan cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan. Diantara buku tersebut, terakhir saya menemukan buku Di dalam lembah kehidupan ditengah buku buku bekas, sungguh sangat menyedihkan. Buya Hamka adalah seorang ulama dan ia pengarang. Novel novel lebih banyak ditulis ketika masih berusia muda. Setelah itu Beliau kosentrasi di pembinaan umat, namun ditengah kesibukannya Buya Hanya tetap menulis. 

 Karya momumental beliau adalah, ketika menulis Tafsir Al Qur’an 30 Juz, yang diberinya judul dengan nama masjid yang di imaminya dan dicintainya, Tafsir Al Azhar. Saya dapat membayangkan ditengah keterbatasan fasilitas tulis menulis di zaman nya, Buya tetap produktif melahirkan karya sastra gemilang. Hanya bermodalkan mesin ketik biasa beliau gigih melampiaskan rasa hati nya, sungguh sangat luar biasa dan mengagumkan. Mungkin seandainya Buya dilahirkan sezaman dengan kita dengan fasilitas komputer, internet, fotocopy, email dan segala macam teknologi termodern, entah berapa banyak lagi karya sastra yang bisa Buya lahirkan. Nah, penulis di zaman teknologi modern saat ini, mungkin yang diperlukan adalah mengumpulkan simpul simpul semangat dalam menulis. 

Kemudian dengan ” sepenuh hati ” menuangkan inspirasi hasil olah pikirnya untuk menghasilkan karya karya yang memiliki ruh seperti yang di nasehatkan Buya Hamka. Kemudahan teknologi hanya berisyarat instan ketika menyajikan (posting) tulisan, namun sejujurnyan tulisan itu sejatinya telah melalui proses panjang sebelum menekan tuts publish. Tulisan adalah gambaran sebenarnya dari kepribdian seseorang, siapa yang mau kepribadiannya di nilai tidak elok oleh para penggemar sastra, katanya. Sumber : http://sejarah.kompasiana.com/2011/11/08/nasehat-buya-hamka-untuk-penulis-pemula/

Jiwa Besar Buya Hamka Terhadap Lawan Politiknya

Pesan Terakhir Mr. Moh. Yamin dan Soekarno Menjelang Ajal serta Pesan Penting Pramudya Ananta Tur



فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30).

Rangkaian tulisan berikut adalah penggalan dari perjalanan hidup Prof. KH. Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka yang dikisahkan oleh putra kelima beliau, yakni KH. Irfan Hamka di dalam bukunya Kisah-Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka.1

Penggalan ini berkisah tentang kebesaran jiwa dan sifat pemaaf Buya Hamka kepada lawan-lawan politiknya secara ideologis: antara Islam, nasionalis dan komunis yang diwakili para tokohnya yakni pencetus penggali Pancasila Mr. Moh.Yamin dan Soekarno serta tokoh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) Pramudya Ananta Tur; padahal tak jarang demi mempertahankan dan membela keyakinannya itu Buya Hamka harus masuk penjara, difitnah, disingkirkan, dimiskinkan namun kesabaran beliau dalam menghadapi ujian itu berbuah menjadi hikmah yang luar biasa yang diantaranya terungkap dalam penggalan kisah berikut ini yang insya Allah dapat membuka mata hati siapapun yang membacanya, meresapinya dan menghayatinya untuk menetapi jalan Islam menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selamat membaca.


Pesan Terakhir Mr. Mohammad Yamin


Masih ada lagi bukti-bukti bagaimana kebesaran jiwa dan pemaafnya ayahku (Buya Hamka – pen.). Susah kita mengukur pribadi orang yang memiliki jiwa sebesar ayahku, Hamka.

Dalam tulisan yang kusiapkan, penulis ini berusaha menghindari penilaian yang subyektif karena aku anak beliau. Kucoba merangkai bagaimana sifat pemaaf yang begitu ikhlas diberikan ayah kepada orang-orang yang membencinya. menzalimi dan memfitnah.

Tahun 1955 sampai 1957, sebagai seorang anggota Konstituante dari Fraksi Partai Masyumi, ayah cukup aktif dalam sidang merumuskan Dasar Negara Rl. Ada 2 pilihan untuk dasar negara kita; pertama, UUD 1945 Negara berdasarkan Islam. Kedua, UUD 1945/ dengan dasar negara Pancasila

Untuk kedua pilihan dasar negara itu, terbuka dua front yang sama kuat. Front pertama tentu saja kelompok Islam. Masyumi sebagai pimpinannya, mengajukan dasar negara berdasarkan Islam. Front kedua, dipimpin PNI, Partai Nasional Indonesia ingin negara berdasarkan Pancasila.

Dalam suatu acara persidangan ayah menyampaikan pidato politiknya, dengan beraninya menyampaikan isi pidatonya:

"Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka … "

Tentu saja para hadirin dalam sidang paripurna Konstituante itu terkejut mendengar pernyataan ayah. Tidak saja pihak pendukung Pancasila, juga para pendukung negara Islam sama-sama terkejut.

Mr. Moh. Yamin sebagai seorang anggota Konstituante dari Fraksi PNI turut terkejut atas pernyataan ayah itu. Tokoh PNI itu tidak saja marah, berlanjut menjadi benci. Walaupun kedua tokoh yang berseberangan sama-sama dari Sumbar. Moh Yamin tidak dapat menahan kebencian- nya kepada ayah. Baik bertemu dalam acara resmi, seminar kebudayaan dan sama-sama menghadiri sidang Konstituante, kebencian itu tetap tak dapat dihilangkannya. Akibat dari pidato ayah, bahwa menjadikan Pancasila sebagai dasar negara sama saja merintis jalan ke neraka, sedangkan Mr. Moh. Yamin sangat percaya pada mitos bahwa penggali Pancasila itu Soekarno.

Penulis masih ingat ketika rumah kami kedatangan tamu Buya KH. Isa Anshari. Ulama sekampung dengan kampung kami Maninjau, beliau sudah lama bermukim di Kota Bandung Dalam acara makan siang, Buya KH. Isa Anshari bertanya kepada ayah; "Apa masih tetap Yamin bersitegang dengan Hamka ?"

Ayah menjawab, "Rupanya bukan saja wajahnya yang diperlihatkan kebenciannya kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya."

Bertahun-tahun setelah dekrit di mana Soekarno kemudian membubarkan Konstituante, parlemen dan menetapkan UUD '45 dan Pancasila sebagai dasar negara, terjadi peristiwa yang luar biasa. Tahun 1962; Mr. Moh. Yamin jatuh sakit parah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, RSPAD. Ayah mengetahuinya dari berita koran dan radio. Ayah menerima telepon dari Bapak Chairul Saleh, salah seorang menteri pada waktu itu. Menteri ini ingin datang bersilaturahim kepada ayah dan menyampaikan perihal sakit Mr. Moh. Yamin.

Chaerul Saleh datang menemui ayah di rumah. Kepada ayah, menteri di era Soekarno ini menceritakan perihal sakitnya Mr. Moh. Yamin.

"Buya, saya membawa pesan dari Bapak Yamin. Beliau  sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja datang menemui Buya. Ada pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir. “
"Apa pesannya?" tanya ayah.

"Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya, sekarang Pak Yamin dalam sekarat."

Ayah agak tercengang mendengar pesan Pak Yamin itu.  Teringat kembali sikap bermusuhan dan membencinya.

"Apalagi pesan Pak Yamin?” Kembali ayah bertanya kepada menteri yang ditugaskan Pak Yamin itu.

"Begini Buya, yang sangat merisaukan pak Yamin, beliau ingin bila wafat dapat dimakamkan di kampung halamannya yang telah lama tidak dikunjungi. Beliau sangat khawatir masyarakat Talawi tidak berkenan menerima jenazahnya. Ketika terjadi pergolakan di Sumatara Barat, Pak Yamin turut mengutuk aksi pemisah-an wilayah dari NKRI. Beliau mengharapkan sekali Hamka bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya. "

Hanya sebentar ayah termenung. Banyak pengalaman pahit yang dirasa oleh ayah selama beberapa tahun ini dengan tokoh yang mengaku wajahnya mirip dengan Patih Majapahit Gajah Mada itu.  "Kalau begitu mari bawa saya ke RSPAD menemui beliau."

Sore itu juga ayah dan Pak Chaerul Saleh tiba di rumah sakit. Dalam ruangan VIP, banyak pengunjung. Ada Pendeta, Biksu Budha dan pengunjung yang lain. Pak Yamin terbaring di tempat tidur dengan slang infus dan oksigen tampak terpasang. Melihat kedatangan ayah tampak wajahnya agak berseri. Dengan lemah Pak Yamin menggapai ayah untuk mendekat. Salah seorang pengunjung meletakkan sebuah kursi untuk ayah duduk di dekat tempat tidur. Ayah menjabat tangan Pak Yamin dan mencium kening tokoh yang bertahun-tahun membenci ayah.

Dengan suara yang hampir tidak terdengar dia berkata: " Terima kasih Buya sudi datang." Dari kedua kelopak matanya tampak air mata menggenangi matanya.

"Dampingi saya," bisiknya lagi. Tangan ayah masih terus digenggamnya.

Mula-mula ayah membisikkan surat Al Fatihah. Kemudian kalimat La ilaha illallah Muhammadan Rasalullah. Dengan lemah Pak Yamin mengikuti bacaan ayah. Kemudian ayah mengulang kembali membaca dua kali. Pada bacaan kedua ini tidak terdengar Pak Yamin mengikuti, hanya dia mem-beri isyarat dengan mengencangkan genggaman tangannya ke tangan ayah. Kembali ayah membisikkan kalimat "tiada Tuhan selain Allah" ke telinga Pak Yamin. Tidak ada respon. Ayah merasa genggaman Pak Yamin mengendur dan terasa dingin dan terlepas dari genggaman ayah.

Seorang dokter datang memeriksa. Dokter itu memberitahu Pak Yamin sudah tidak ada lagi.

"Innalillahi wa inna lillaihi rajiun."

Tokoh yang bertahun-tahun sangat membenci ayah, diakhir hayatnya meninggal dunia sambil bergenggaman tangan dengan ayah.

Dari rumah sakit ayah diajak Bapak Chairul Saleh ke Istana Negara. Waperdam III (Wakil Perdana Menteri III) ini ingin melapor atas wafatnya Pak Yamin kepada Presiden Soekarno. Pemerintah telah mempersiapkan acara pemakaman kenegaraan di TMP Kalibata, Jakarta.

Karena wasiat terakhir Pak Yamin ingin dimakamkan di kampung halaman Talawi, Sawah Lunto. Presiden memerintahkan Gubernur Sumatera Barat Drs. Harun Zen untuk mempersiapkan upacara kenegaraan.

Sebelum meninggalkan istana, Presiden Soekarno menyalami ayah sambil berucap: "Terima kasih atas kebesaran jiwa Bung turut mendampingi Yamin menjelang wafatnya dan bersedia mengantarnya ke Talawi. Atas nama pribadi dan  pemerintah saya ucapkan terima kasih."

(Ini adalah pertemuan terakhir antara ayah dan Presiden Soekarno, 2 tahun kemudian ayah dicebloskan ke penjara atas perintah Soekarno).

Keesokan harinya, memenuhi pesan terakhir Almarhum Pak Yamin, agar ayah bersedia menemani jenazahnya dimakamkan di Kampung Talawi, Sawah Lunto Sumatera Barat dikabulkan ayah.

Proses pemakaman dilakukan dengan upacara kenegaraan. Inspektur upacaranya bapak Menteri Chaerul Saleh. Siang itu juga ayah kembali ke Jakarta.

(Cerita dengan Pak Yamin ini penulis mendengar dari ayah sendiri dan terakhir dari saudara Syakir Rasyid putra Buya St. Mansur yang ikut mendengar Iaporan ayah kepada guru beliau A.R. St. Mansyur sepulang dari Talawi di rumah Buya St. Mansyur).

Pesan Terakhir Soekarno


Dua tahun 4 bulan Iamanya ayah ditahan atas perintah Presiden Soekarno, waktu itu dari tahun 1964-1966, dengan tuduhan melanggar undang-undang Anti Subversif Pempres No. 11, yaitu tuduhan merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno.

Betapa beratnya penderitaan kami sepeninggal ayah yang ditahan. Buku-buku karangan ayah dilarang. Ayah tidak bisa Iagi memenuhi undangan untuk berdawah. Pemasukan uang terhenti. Untuk menyambung hidup ummi mulai menjual barang dan perhiasan.

Ayah baru bebas setelah rezim Soekarno jatuh, digantikan oleh Soeharto. Ayah kembali melakukan kegiatan seperti sebelum ditahan Soekarno.

Tanggal 16 Juni 1970, ayah dihubungi oleh Bapak Kafrawi, Sekjen Dep. Agama. Pagi-pagi sekjen ini datang ke rumah, Pak Kafrawi membawa pesan dari keluarga mantan Presiden Soekarno untuk ayah. Pesan itu pesan terakhir dari Soekarno, begini pesannya; “Bila aku mati kelak. minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku."

“Jadi beliau sudah wafat?" Ayah bertanya ke Pak Kafrawi.

"Iya Buya. Bapak telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah di bawah ke Wisma Yaso." (Ini versi pertama).

Ada satu versi lagi menyatakan bahwa dalam keadaan sekarat mantan Presiden RI ini menyampaikan pesannya kepada keluarga beliau, bahwa bila datang ajalnya, beliau ingin yang menjadi imam sembahyang jenazahnya dilakukan oleh Hamka. Pesan itu disampaikan oleh keluarganya kepada Presiden Soeharto yang telah menggantikan beliau sebagai Presiden RI ke-2.

Presiden Soeharto mengutus salah seorang Aspri (Asisten Pribadi)nya Mayjen Suryo menemui Buya Hamka di rumah JI. Rd.Fatah, didampingi seorang sekjen Dep. Agama RI. Kepada ayah utusan Presiden Soeharto itu menyampaikan permintaan terakhir Soekano. Tanpa ragu pesan yang dibawa utusan Presiden Soeharto dilaksanakan oleh ayah.

Ayah tiba di Wisma Yaso bersama penjemputnya. Di wisma itu telah banvak pelayat berdatangan, penjagaan pun sangat kuat. Shalat jenazah baru akan dimulai menunggu kehadiran ayah. Ayah dengan mantap menjadi imam jenazah Soekarno. Pesan terakhir mantan Presiden Pertama dengan ikhlas dijalankan oleh ayah.

Aku sangat menyesal tidak bisa mengikuti peristiwa ayah dijemput untuk mengimami sholat jenazah mantan Presiden Soekarno dari dekat karena berada di luar kota Jakarta. Dalam menyiapkan buku ini menyangkut pesan terakhir Soekarno aku harus mencari inrormasi. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu banyak yang sudah meninggal dunia termasuk almarhum abangku H. Zaky Hamka yang ikut menemani ayah ke Wisma Yaso.

Hubungan antara ayah dan Bung Karno telah terjalin sejak tahun 1941. Selesai menghadiri Muktamar Muhammadiyah ke-30 di Yogyakarta, Januari 1941, atas ajakan H. Abdul Karim (Oei Tjing Hin) Konsul Muhammadiyah Bengkulu seorang Tokoh Cina Muslim, menemui Soekano di tempat pengasingannya di Bengkulu. Dalam pertemuan selama 2 jam itu hubungan keduanya jadi akrab. Untuk kenang-kenangan mereka berfoto bersama.

Tahun 1946 setelah kemerdekaan, Soekarno telah diangkat menjadi Presiden RI pertama, Presiden mengajak ayah untuk pindah dari Medan ke Jakarta. Namun karena situasi tanah air yang belum selesai urusannya dengan Belanda, terjadi aksi polisionil pertama tahun 1947 permintaan Presiden tertunda. Pada tahun berikutnya 1948 Presiden Soekarno berkunjung ke Sumatera Barat. Kembali ayah bertemu dengan Soekarno di Bukit Tinggi. Pada kesempatan itu ayah menghadiahkan sebuah puisi kepada Presiden Pertama itu dengan judul "Sansai juga aku kesudahannya.”

Setelah penyerahan Kedaulatan 1949, di awal 1950 ayah mengajak kami pindah ke Jakarta. Pada peringatan Isra' Miraj Nabi Muhammad SAW tahun 1950, ayah diminta Presiden Soekarno memberikan wejangan tentang rahasia Isra' Miraj di Istana. Hubungan baik terus berlanjut. Sewaktu pelaksanaan shalat ldul Fitri tahun 1951 diadakan di Lapangan Banteng yang diselenggarakan oleh PHBI (Panitia Hari Besar Islam) Jakarta aku turut diajak ayah, ayah duduk berdampingan dengan Presiden kita waktu itu. Aku duduk diapit ayah dan Soekarno. Aku sangat bahagia karena aku diperkenalkan ayah ke Soekarno.

Aku bersalaman dengan Presiden kita yang gagah itu. Kulit wajah beliau putih kemerah-merahan, segar. Tatapan matanya kuat ketika bersalaman denganku. Usiaku ketika itu 8 tahun. Bila aku ingat kejadian itu, aku sering tersenyum sendiri karena Presiden kita itu memakai kaus kaki yang robek di ujung sebelah kanan. Sambil mengikuti takbir Presiden RI Pertama itu tampak asyik mengelus-elus jempol kakinya yang tersembul dari robekan kaos kaki kanannya.

Tahun 1955 ayah terpilih menjadi anggota Konstituante. Sejak itu hubungan akrab dengan Soekarno mulai renggang. Ayah dengan segenap fraksi Partai Islam memperjuangkan negara berdasarkan Islam. Sedangkan Presiden Soekarno ingin mempertahankan negara berdasarkan Pancasila. Sejak itu hubungan dua orang yang sebelumnya seperti bersaudara terputus. Baru tahun 1962 mereka bertemu kembali ketika ayah turut menyelenggarakan jenazah Mr. Moh. Yamin. Dua tahun kemudian ayah ditangkap atas perintah Presiden Soekarno.

Setelah 8 tahun kemudian 1970, kedua orang yang dulu-nya bersahabat dipertemukan kembali, hanya situasinya berbeda. Soekarno berada dalam peti jenazah, ayah berdiri di dekat peti jenazah itu bertindak sebagai imam sembahyang jenazah orang yang pernah menjebloskan diri beliau masuk penjara selama 2 tahun 4 bulan. Tampak benar bagi penulis, walaupun keadaan dua orang ini berbeda paham politik yang tajam, namun dalam hati mereka tetap menjaga tali silaturahmi. Soekarno tidak membenci ayah. Begitu pula ayah pun tidak dendam kepada Soekarno.

Akibat ayah mengimami jenazah Soekarno, teman-teman ayah banyak yang menyesalkan tindakan ayah itu. Ada yang mengatakan bahwa Soekarno itu munafiq. Ada pula yang bertanya: "Apa Buya tidak dendam kepada orang yang telah membenamkan Buya dalam penjara?"

Dengan lemah lembut ayah menjawab semua kritik itu. "Hanva Allah yang lebih tahu orang-orang yang munafiq Dan saya harus berterima kasih, karena dalam penjara saya dapat kesempatan menulis tafsir Al-Quran 30 juz. Satu hal lagi jangan dilupakan bahwa almarhum memprakarsai pembangunan 2 buah masjid yang monumental, satu masjid Baiturrahim di Istana Merdeka. Satu lagi masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Semoga ini menjadi amal yang tak terhingga untuk Soekarno.”

Pesan Pramudya Ananta Tur


Awal tahun 1963, dunia sastra kita digemparkan oleh dua surat kabar Harian Ibukota: Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur. Kedua koran milik Komunis ini menyiarkan di halaman pertama dengan berita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck hasil jiplakan oleh pengarang Hamka. Ulasan berita itu dilansir oleh seorang penulis bernama Ki Panji Kusmin. Sedangkan di harian Bintang Timur dalam lembaran Lentera, juga memuat dan mengulas bagaimana Hamka mencuri karangan asli dari pengarang Alfonso Carr, pujangga Prancis. Lembaran Lentera ini diasuh oleh Pramudya Ananta Tur.

Berbulan-bulan lamanva kedua koran komunis ini menyerang ayah dengan tulisan-tulisan berbau fitnah, juga menyerang secara pribadi.

Aku lihat ayah tenang-tenang saja menghadapi segala hujatan dari Ki Panji Kusmin dan Pramudva Ananta Tur itu.

Penulis waktu itu sekolah di SMAN IX merasakan tekanan batin juga. Guru Sastra lndonesiaku seorang guru PGRI Vak Sentral begitu pula dengan guru civicku dengan gaya mengejek selalu menanyakan kesehatan ayah dan tidak lupa berkirim salam. Kupingku terasa panas bila kedua guruku itu bertanya kepadaku. Begitu pula halnya dengan saudara-saudaraku yang lain. Apalagi membaca kedua koran yang sengaja dikirim ke rumah secara gratis.

PKI melakukan usaha kudeta tanggal 30 September 1965 namun gagal. Dalam usaha kup itu 6 jenderal dan 1 perwira gugur dibunuh PKI. Akibat kegagalan kup PKI itu, kedua guru SMA-ku itu diberhentikan sebagai guru dan pegawai negeri, dan Pramudya Ananta Tur ditahan di Pulau Buru. Bertahun-tahun kemudian Pramudya Ananta Tur dibebaskan, kemudian melakukan kegiatan lagi. Ayah tidak pernah berhubungan dengan tokoh Lekra yang tidak pernah bosan menyerang ayah di kedua koran Komunis itu.

Suatu hari, ayah kedatangan sepasang tamu. Si perempuan orang pribumi, sedang laki-lakinya seorang keturunan Cina. Kepada ayah si perempuan memperkenalkan diri. Namanya Astuti, sedangkan si laki-laki bernama Daniel Setiawan. Ayah agak terkejut ketika Astuti menyatakan bahwa dia anak sulung Pramudya Ananta Tur. Astuti menemani Daniel menemui ayah untuk masuk Islam sekaligus mempelajari agama Islam. Selama ini Daniel non muslim. Pramudya tidak setuju anak perempuannya yang muslimah nikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan beragama lain.

Hanya sebentar ayah berfikir. Tanpa ada sedikitpun keraguan permohonan kedua tamu itu dikabulkan oleh ayah. Daniel Setiawan calon menantu Pramudya Ananta Tur langsung di-Islam-kan oleh ayah dengan menuntunnya membaca dua kalimat syahadat. Ayah menganjurkan Daniel berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam kepada ayah.

Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramudya dan calon menantunya itu ayah tidak ada sama sekali berbicara masalah Pramudya dengan ayah yang pernah terjadi berselang lama waktu itu. Ayah betul-betul telah dihancurkan nama baiknya oleh Pramudya Ananta Tur melalui corong Komunis di harian Bintang Timur dan Harian Rakyat.

Salah seorang teman Pramudva bernama Dr. Hudaifah Kuddah menanyakan kepada Pramudya alasan tokoh Lekra ini mengutus calon menantunya menemui Hamka. Dengan serius Pram menjawab:

"Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik."

Menurut Dr. Hudaifah yang tertuang dalam majalah Horison, Agustus 2006, secara tidak langsung tampaknva Pramudya Ananta Tur dengan mengirim calon menantu ditemani anak perempuan seakan minta maaf atas perilakunya memperlakukan ayah di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat. Dan secara tidak langsung pula ayah memaafkan Pramudya Ananta Tur dengan bersedia mengislamkan dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantu.

Dalam peristiwa ayah menghadapi ketiga tokoh yang penulis sampaikan dalam buku ini, penulis sengaja tidak memberikan komentar dan menilai ayahku Hamka. Penulis mernbebaskan kepada pernbaca yang budiman menilainya sendiri. Penulis sebagai seorang anak ingin menghindar penilaian kepada ayah secara subyektif. [voa-islam.com]
_________________________
1. Diterbitkan pada bulan Oktober 2010 oleh UHAMKA PRESS, Tulisan ini mengacu pada Cetakan II, Oktober 2011, di halaman 191-200, dengan ubahan oleh editor pada sub judul untuk Mr. Moh Yamin dan Pramudya.

Sumber : http://www.voa-islam.com/news/upclose/2012/06/01/19330/jiwa-besar-buya-hamka-terhadap-lawan-politiknya/

Karya Buya Hamka

Daftar karya

    Kenang-Kenangan Hidup, 4 Jilid, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
    Ayahku (Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangannya), Jakarta: Pustaka Wijaya, 1958.
    Khatib al-Ummah, 3 Jilid, Padang Panjang, 1925.
    Islam dan Adat, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.
    Kepentingan Melakukan Tabligh, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.
    Majalah Tentera, 4 nomor, Makassar, 1932.
    Majalah al-Mahdi, 9 nomor, Makassar, 1932.
    Bohong di Dunia, cet. 1, Medan: Cerdas, 1939.
    Agama dan Perempuan, Medan: Cerdas, 1939.
    Pedoman Mubaligh Islam, cet. 1, Medan: Bukhandel Islamiah, 1941.
    Majalah Semangat Islam, 1943.
    Majalah Menara, Padang Panjang, 1946.
    Hikmat Isra’ Mi’raj, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
    Negara Islam, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
    Islam dan Demokrasi, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
    Revolusi Fikiran, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
    Dibandingkan Ombak Masyarakat, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
    Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.
    Revolusi Agama, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.
    Sesudah Naskah Renville, 1947 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
    Tinjauan Islam Ir. Soekarno, Tebing Tinggi, 1949.
    Pribadi, 1950 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
    Falsafah Hidup, cet. 3, Jakarta: Pustaka Panji Masyarakat, 1950.
    Falsafah Ideologi Islam, Jakarta: Pustaka Wijaya, 1950.
    Urat Tunggang Pancasila, Jakarta: Keluarga, 1951.
    Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1952.
    K.H. A. Dahlan, Jakarta: Sinar Pujangga, 1952.
    Perkembangan Tashawwuf dari Abad ke Abad, cet. 3, Jakarta: Pustaka Islam, 1957.
    Pribadi, Jakarta: Bulan Bintang, 1959.
    Pandangan Hidup Muslim, Jakarta: Bulan Bintang, 1962.
    Lembaga Hidup, cet. 6, Jakarta: Jayamurni, 1962 (kemudian dicetak ulang di Singapura oleh Pustaka Nasional dalam dua kali cetakan, pada tahun 1995 dan 1999).
    1001 Tanya Jawab tentang Islam, Jakarta: CV. Hikmat, 1962.
    Cemburu, Jakarta: Firma Tekad, 1962.
    Angkatan Baru, Jakarta: Hikmat, 1962.
    Ekspansi Ideologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1963.
    Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia, Jakarta: Tintamas, 1965 (awalnya merupakan naskah yang disampakannya pada orasi ilmiah sewaktu menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Mesir, pada 21 Januari 1958).
    Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Jakarta: Bulan Bintang, 1965.
    Lembaga Hikmat, cet. 4, Jakarta: Bulan Bintang, 1966.
    Dari Lembah Cita-Cita, cet. 4, Jakarta: Bulan Bintang, 1967.
    Hak-Hak Azasi Manusia Dipandang dari Segi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1968.
    Gerakan Pembaruan Agama (Islam) di Minangkabau, Padang: Minang Permai, 1969.
    Hubungan antara Agama dengan Negara menurut Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1970.
    Islam, Alim Ulama dan Pembangunan, Jakarta: Pusat dakwah Islam Indonesia, 1971.
    Islam dan Kebatinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1972.
    Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.
    Beberapa Tantangan terhadap Umat Islam di Masa Kini, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
    Kedudukan Perempuan dalam Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.
    Muhammadiyah di Minangkabau, Jakarta: Nurul Islam, 1974.
    Tanya Jawab Islam, Jilid I dan II cet. 2, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
    Studi Islam, Aqidah, Syari’ah, Ibadah, Jakarta: Yayasan Nurul Iman, 1976.
    Perkembangan Kebatinan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1976.
    Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, cet. 8, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1980.
    Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
    Kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
    Lembaga Budi, cet. 7, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
    Tasawuf Modern, cet. 9, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
    Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian, Jakarta: Yayasan Idayu, 1983.
    Islam: Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
    Iman dan Amal Shaleh, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
    Renungan Tasawuf, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985.
    Filsafat Ketuhanan, cet. 2, Surabaya: Karunia, 1985.
    Keadilan Sosial dalam Islam, Jakarta: Pustaka Antara, 1985.
    Tafsir al-Azhar, Juz I sampai Juz XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986.
    Prinsip-prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990.
    Tuntunan Puasa, Tarawih, dan Idul Fitri, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1995.
    Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Jakarta: Tekad, 1963.
    Islam dan Adat Minangkabau, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
    Mengembara di Lembah Nil, Jakarta: NV. Gapura, 1951.
    Di Tepi Sungai Dajlah, Jakarta: Tintamas, 1953.
    Mandi Cahaya di Tanah Suci, Jakarta: Tintamas, 1953.
    Empat Bulan di Amerika, 2 Jilid, Jakarta: Tintamas, 1954.
    Merantau ke Deli, cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1977 (ditulis pada tahun 1939).
    Si Sabariah (roman dalam bahasa Minangkabau), Padang Panjang: 1926.
    Laila Majnun, Jakarta: Balai Pustaka, 1932.
    Salahnya Sendiri, Medan: Cerdas, 1939.
    Keadilan Ilahi, Medan: Cerdas, 1940.
    Angkatan Baru, Medan: Cerdas, 1949.
    Cahaya Baru, Jakarta: Pustaka Nasional, 1950.
    Menunggu Beduk Berbunyi, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.
    Terusir, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.
    Di Dalam Lembah Kehidupan (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1958.
    Di Bawah Lindungan Ka'bah, cet. 7, Jakarta: Balai Pustaka, 1957.
    Tuan Direktur, Jakarta: Jayamurni, 1961.
    Dijemput Mamaknya, cet. 3, Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.
    Cermin Kehidupan, Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.
    Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, cet. 13, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
    Pembela Islam (Tarikh Sayyidina Abubakar Shiddiq), Medan: Pustaka Nasional, 1929.
    Ringkasan Tarikh Ummat Islam, Medan: Pustaka Nasional,1929.
    Sejarah Islam di Sumatera, Medan: Pustaka Nasional, 1950.
    Dari Perbendaharaan Lama, Medan: M. Arbi, 1963.
    Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao, cet. 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
    Sejarah Umat Islam, 4 Jilid, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
    Sullam al-Wushul; Pengantar Ushul Fiqih (terjemahan karya Dr. H. Abdul Karim Amrullah), Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
    Margaretta Gauthier (terjemahan karya Alexandre Dumas), cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

Sumber

Buya Hamka

 Haji Abdul Malik Karim Amrullah
Buya Hamka
Hamka2.jpg
Lahir     17 Februari 1908
Bendera Belanda Maninjau, Tanjung Raya, Agam, Hindia-Belanda
Meninggal     24 Juli 1981 (73 tahun)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan      Indonesia
Suku bangsa     Minangkabau
Angkatan     Pujangga Baru dan Balai Pustaka
Karya terkenal     Di Bawah Lindungan Ka'bah
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun)[1] adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.[2] Ia baru dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9 November 2011.[3]

Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern.[4] Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi atau abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku atau seseorang yang dihormati.

Ayahnya adalah Haji Abdul Karim bin Amrullah, pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya adalah Siti Shafiyah Tanjung. Dalam silsilah Minangkabau, ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya.[5]
Daftar isi

Kehidupan

Hamka merupakan cucu dari Tuanku Kisai,[6] mendapat pendidikan rendah pada usia 7 tahun di Sekolah Dasar Maninjau selama dua tahun. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka kemudian mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab, salah satu pelajaran yang paling disukainya.[7] Melalui sebuah perpustakaan yang dimiliki oleh salah seorang gurunya, Engku Dt. Sinaro, bersama dengan Engku Zainuddin, Hamka diizinkan untuk membaca buku-buku yang ada diperpustakaan tersebut, baik buku agama maupun sastra.
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, bangunannya merupakan rumah tempat Hamka dilahirkan

Hamka mulai meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa, sekaligus ingin mengunjungi kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Untuk itu, Hamka kemudian ditumpangkan dengan Marah Intan, seorang saudagar Minangkabau yang hendak ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, ia tidak langsung ke Pekalongan. Untuk sementara waktu, ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja’far Amrullah di kelurahan Ngampilan, Yogyakarta. Barulah pada tahun 1925, ia berangkat ke Pekalongan, dan tinggal selama enam bulan bersama iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur.[7]

Pada tahun 1927, Hamka berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari Mekkah, dalam suatu rapat adat niniak mamak nagari Sungai Batang, kabupaten Agam, Engku Datuk Rajo Endah Nan Tuo, memaklumkan Hamka dengan gelar Datuk Indomo, yang merupakan gelar pusaka turun temurun dalam suku Tanjung. Pada tahun 1950, Hamka kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya.

Pada tanggal 5 April 1929, Hamka dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan, yang merupakan anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti Raham, ia dikaruniai 11 orang anak. Mereka antara lain Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1973, ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hj. Siti Khadijah. Menjelang akhir hayatnya ia mengangkat Jusuf Hamka, seorang muallaf, peranakan Tionghoa-Indonesia sebagai anak.[8]
Karier

Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama di Padang Panjang pada tahun 1927. Kemudian ia mendirikan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang dan mengetuai cabang Muhammadiyah tersebut pada tahun 1928. Pada tahun 1931, ia diundang ke Bengkalis untuk kembali mendirikan cabang Muhammadiyah. Dari sana ia melanjutkan perjalanan ke Bagansiapiapi, Labuhan Bilik, Medan, dan Tebing Tinggi, sebagai mubaligh Muhammadiyah. Pada tahun 1932 ia dipercayai oleh pimpinan Muhammadiyah sebagai mubaligh ke Makassar, Sulawesi Selatan.[9] Ketika di Makassar, sambil melaksanakan tugasnya sebagai seorang mubaligh Muhammadiyah, ia memanfaatkan masa baktinya dengan sebaik-baiknya, terutama dalam mengembangkan lebih jauh minat sejarahnya. Ia mencoba melacak beberapa manuskrip sejarawan muslim lokal. Bahkan ia menjadi peneliti pribumi pertama yang mengungkap secara luas riwayat ulama besar Sulawesi Selatan, Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari. Bukan itu saja, ketika di Makassar ia juga mencoba menerbitkan majalah pengetahuan Islam yang terbit sekali sebulan. Majalah tersebut diberi nama "al-Mahdi".[10]

Pada tahun 1934, Hamka meninggalkan Makassar dan kembali ke Padang Panjang, kemudian berangkat ke Medan. Di Medan—bersama M. Yunan Nasution—ia mendapat tawaran dari Haji Asbiran Ya'kub, dan Mohammad Rasami (mantan sekretaris Muhammadiyah Bengkalis) untuk memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat.[7] Pada majalah ini untuk pertama kali ia memperkenalkan nama pena Hamka,[11] melalui rubrik Tasawuf modern, tulisannya telah mengikat hati para pembacanya, baik masyarakat awam maupun kaum intelektual, untuk senantiasa menantikan dan membaca setiap terbitan Pedoman Masyarakat. Pemikiran cerdas yang dituangkannya di Pedoman Masyarakat merupakan alat yang sangat banyak menjadi tali penghubung antara dirinya dengan kaum intelektual lainnya, seperti Natsir, Hatta, Agus Salim, dan Muhammad Isa Anshary.

Pada tahun 1945 Hamka kembali ke Padang Panjang. Sesampainya di Padang Panjang, ia dipercayakan untuk memimpin Kulliyatul Muballighin dan menyalurkan kemampuan jurnalistiknya dengan menghasilkan beberapa karya tulis. Di antaranya: Negara Islam, Islam dan Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, dan Dari Lembah Cita-Cita. Pada tahun 1949, Hamka memutuskan untuk meninggalkan Padang Panjang menuju Jakarta. Di Jakarta, ia menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi koresponden majalah Pemandangan dan Harian Merdeka. Pada tahun 1950, setalah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, Hamka melakukan kunjungan ke beberapa negara Arab. Di sana, ia dapat bertemu langsung dengan Thaha Husein dan Fikri Abadah. Sepulangnya dari kunjungan tersebut, ia mengarang beberapa buku roman. Di antaranya Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Ia kemudian mengarang karya otobiografinya, Kenang-Kenangan Hidup pada tahun 1951,[12] dan pada tahun 1952 ia mengunjungi Amerika Serikat atas undangan pemerintah setempat.[13]
Politik

Hamka juga aktif di kancah politik melalui Masyumi.[10] Pada Pemilu 1955, Hamka terpilih menjadi anggota konstituante mewakili Jawa Tengah. Akan tetapi pengangkatan tersebut ditolak karena merasa tempat tersebut tidak sesuai baginya. Atas desakan kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur, akhirnya Hamka menerima untuk diangkat menjadi anggota konstituante. Sikapnya yang konsisten terhadap agama, menyebabkannya acapkali berhadapan dengan berbagai rintangan, terutama terhadap beberapa kebijakan pemerintah. Keteguhan sikapnya ini membuatnya dipenjarakan oleh Soekarno dari tahun 1964 sampai 1966. Pada awalnya, Hamka diasingkan ke Sukabumi, kemudian ke Puncak, Megamendung, dan terakhir dirawat di rumah sakit Persahabatan Rawamangun, sebagai tawanan. Di dalam penjara ia mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya.[14]

Pada tahun 1977, Hamka dipilih sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia yang pertama. Semasa jabatannya, Hamka mengeluarkan fatwa yang bersisi penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan RUU Perkawinan tahun 1973, dan mengecam kebijakan diperbolehkannya merayakan Natal bersama umat Nasrani. Meskipun pemerintah mendesaknya untuk menarik kembali fatwanya tersebut dengan diiringi berbagai ancaman, Hamka tetap teguh dengan pendiriannya.[15] Akan tetapi, pada tanggal 24 Juli 1981, Hamka memutuskan untuk melepaskan jabatannya sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia, karena fatwanya yang tidak kunjung dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.[1]
Sastrawan

Hamka juga merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.[16]

Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, ia dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, ia meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.

Hamka juga banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya lain seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang pertama dalam bahasa Minang dengan judul Si Sabariah. Kemudian, ia juga menulis buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi dan otobiografi, sosial kemasyarakatan, pemikiran dan pendidikan, teologi, tasawuf, tafsir, dan fiqih. Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Di antara novel-novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli juga menjadi perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima, baik peringkat nasional maupun internasional.[16]

Pada tahun 1959, Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Cairo[5] atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan, serta gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.[16]

Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun dan dikebumikan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.[16] Jasanya tidak hanya diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, bahkan di negara negara berpenduduk muslim di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Brunei, Filipina Selatan, dan beberapa negara Arab.

Sumber